Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/jurnbcom/public_html/indo/wp-includes/cache.php on line 99

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/jurnbcom/public_html/indo/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/jurnbcom/public_html/indo/wp-includes/theme.php on line 576
JURNAL ILMU DESAIN » JID Vol 1 No. 1, 2006

Mar 09 2006

JID Vol 1 No. 1, 2006

Published by admin at 2:37 am under Artikel Isi

foto3.jpg

WIDAGDO
Estetika Dalam Perjalanan Sejarah: Arti dan Peranannya dalam Desain. (Hal. 3 - 16).

Ringkasan 1.jpg

Desain selalu mengacu pada estetika. Ia tidak semata berkenaan dengan persepsi visual-fisikal saja, namun mencakup konsep yang abstrak, yakni: yang benar, teratur, dan berguna. Tulisan ini memaparkan bahwa estetika memiliki watak transendental, keberaturan, dan pragmatik. Estetika memperoleh tantangan ketika modernisme memilah antara “kegunaan” dan “estetik”, sebagaimana antara desain dan seni. Selanjutnya posmodern juga melepas estetika, dari persepsi tentang keindahan menuju pada pluralisme makna. Oleh karena itu pendidikan desain di Indonesia harus memperjuangkan kembali metoda dasar yang digagaskan para pemikir dunia ribuan tahun lalu. Desainer, khususnya desainer interior, hendaknya memperjuangkan kebenaran estetik, sebab “desain adalah suatu kearifan yang ditampakkan”.

 

 

 

 

IMAM BUCHORI ZAINUDDIN
Desain, Sains Desain dan Sains tentang Desain: Telaah Filsafat Ilmu. (Hal. 17 - 34).

Ringkasan 22.jpg

Desain mengalami perkembangan makna, tidak lagi suatu kegiatan menggambar, melainkan kegiatan ilmiah. Memang masih terdapat polemik antara desain sebagai kegiatan enjinering ataukah sebagai kegiatan intuitif, namun yang ditekankan adalah desain sesungguhnya berurusan dengan nilai-nilai. Ia relatif terhadap acuan nilai yang dianut oleh pengambil keputusan. Oleh karena itu, desain akan terus berkembang dengan dua pendekatan, yakni: engineering dan humanities. Tulisan ini merunut perkembangan filsafat ilmu yang melatari lahirnya sains desain sekaligus membuktikannya bahwa desain, baik konsep, teori maupun konfigurasi artefaknya, selalu bersifat kontekstual.

KIYOSHI MIYAZAKI; DUDY WIYANCOKO

Perkembangan Pendidikan Desain dan Ilmu Desain di Jepang. (hlm. 35-48)

Ringkasan4.jpg

Modernisme Jepang mengartikan hasil desain sebagai benda pakai. Pendidikan desain selanjutnya menggeser arti desain sebagai sistem yang menghasilkan kegunaan. Menghadapi tantangan masa depan, pendidikan tinggi desain perlu peduli terhadap dunia pembuatan artefak (monozukuri). Pertama, mensinergikan desain sebagai entitas visual kreatif dengan bidang-bidang enjiniring dan ilmu kemanusiaan. Kedua, mempopulerkan kuliah desain nyata, dan program kemitraan dengan industri. Ketiga, merintis program pasca-sarjana desain pola terbuka, dan keempat, mengenalkan ilmu desain sejak sekolah dasar. Ilmu desain nantinya akan terbagi menajam menjadi berbagai keahlian, yakni: desain dan kebudayaan, desain produk, desain komunikasi visual, desain lingkungan, desain dan material, dan seterusnya.

 

INDRA NURHADI, WIRANTO ARISMUNANDAR, DJOKO SUHARTO, FARID R. MULYA.

Mechanical Engineering dalam Perspektif Desain sebagai Ilmu. (hlm. 49-62).

Ringkasan51.jpg

Bila kegiatan desain dipahami sebagai kegiatan mencari solusi suatu kebutuhan, maka dapat dikatakan bahwa bidang keahlian desain tersebar di berbagai departmen di ITB. Dalam rangka menyamakan persepsi dan mengkaji gagasan keserumpunan desain, makalah ini ditulis untuk mengenalkan hal-hal khusus tentang “mechanical engineering design”. Contoh mewakili desain yang berciri ”murni” mesin dan desain yang memerlukan keahlian multi-disiplin yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengkaji kontribusi dari masing-masing bidang keahlian. Untuk me-nyamakan persepsi keserumpunan, mem-bangun komunikasi dan sinergi disampaikan matriks kompetensi yang menyatakan kontri-busi berbagai disiplin dalam suatu desain dengan permasalahan yang semakin rumit.

 

YASRAF AMIR PILIANG

Pluralitas Bahasa Rupa: Membaca Pemikiran Primadi Tabrani. (hlm. 63-74).

Ringkasan

Bahasa rupa (visual language) dipahami secara berbeda-beda oleh para ilmuwan. Bahasa rupa yang digagaskan oleh Primadi Tabrani, Guru Besar FSRD-ITB, memiliki arti khusus, yakni bahasa tentang rupa, tentang aspek bercerita gambar-gambar prasejarah maupun gambar anak-anak. Teori ini berbeda dengan bahasa rupa dalam kajian semiotika. Namun, terdapat persinggungan dalam persoalan bercerita dan denotasi di semiotika. Terdapat pula aspek khusus yang dikaji oleh Primadi, namun tidak dikaji di semiotika, yaitu cara penggambaran dan bercerita secara denotatif. Kedua hal ini telah dilupakan di dalam kajian rupa di Indonesia maupun di Barat yang lebih mengutamakan kajian tingkat konotatif. Oleh karena itu kajian Primadi telah berkontribusi besar bagi kajian semiotika visual secara luas.

Comments are closed at this time.