Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/jurnbcom/public_html/indo/wp-includes/cache.php on line 99

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/jurnbcom/public_html/indo/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/jurnbcom/public_html/indo/wp-includes/theme.php on line 576
JURNAL ILMU DESAIN » 2006» August

Archive for August, 2006

Aug 09 2006

JID Vol 1 No. 2, 2006

Published by admin under Artikel Isi

jid_1-2001002.jpg

YUSWADI SALIYA
Pendekatan Interdisiplin dalam Desain: Suatu Penjelajahan Awal. (Hal. 75 - 88)

Ringkasan 21.jpg

Desain sebagai kegiatan interdisiplin bisa didekati dari berbagai sudut. Secara umum, tulisan ini menelusuri iterasi sejarah untuk mengamati kecenderungan baru, seperti fenomena gerakan renaisan dan pencerahan di Eropa (Barat) beserta dampak paradigmatik sosial-budayanya terhadap pemahaman ranah desain, atau seperti kebangkitan kembali akan kesadaran tubuh dan pengalaman pragmatik sehari-hari. Secara khusus, tulisan ini juga menyoroti gagasan simbiosis Kurokawa dari Jepang yang mencerminkan pendekatan ketimuran bersandingan dengan gagasan adaptasi (Piaget/Norberg-Schulz) sebagai landasan desain yang baru. Cara-untuk-tahu secara desain, sebagai budaya ketiga (Cross), diketengahkan sebagai pembanding terhadap kecenderungan dikotomik-hegemonik modernis yang dipandang bermasalah. Gagasan Richard Buchanan diajukan sebagai excursus, untuk membaca kategorisasi dalam wacana desain secara interdisipliner. Penjelajahan awal ini diakhiri secara terbuka dengan mengemukakan berbagai kemungkinan dalam bentuk amsal sesudah terbebasnya kembali berbagai variabel dalam desain.

JAKOB SUMARDJO
Konsep Halus dan Kosong Dalam Seni. (Hal. 89 - 102)

Ringkasan

Di dalam tulisan ini dibahas tentang pengertian seni. Seni menyangkut segala sesuatu yang memiliki nilai halus, kecil, lembut, dan bertolak dari patokan dasar: penguasaan ketrampilan dan pemahaman filsafat. Sebab nilai seni mencakup tiga kategori, yakni: nilai logika (benar/salah), etika (baik/jahat) dan estetika (indah/buruk). Di dalam seni tradisi etnik Indonesia ketiganya ini menyatu. Untuk memahaminya, kita memerlukan pembedaan tingkatan pengetahuan: (1) tingkat kawruh (pengetahuan hidup sehari-hari), (2) tingkat ngelmu (pengetahuan halus, spiritual, paradoksal) dan (3) tingkat kasunyatan (pengetahuan sempurna, yang tunggal). Inilah yang menjadikan estetika tradisional Indonesia penuh dengan pasangan paradoksal namun mengarah ke yang tunggal. Estetika ini mendasari makna artefak budayanya; pasangan paradoksal (misal: laki-perempuan, langit-bumi) memiliki tujuan untuk mengingatkan kita akan pentingnya harmoni dalam kehidupan.

JULY HIDAYAT
Kode Ganda Dalam Desain Interior Kontemporer: Suatu Kajian Poskolonial. (Hal. 103 - 114).

Ringkasan

8.jpg

Di kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jawa dan Bali, dicermati adanya fenomena desain interior eklektik yang menghadirkan kode ganda, yaitu kode budaya Barat dan Timur secara bersama-sama. Dalam hal ini kode budaya Barat diwakili oleh idiom-idiom visual gaya klasik dan gaya modern, sedangkan kode gaya Timur diwakili oleh gaya etnik atau tradisional Indonesia. Dalam kajian ini, kasus interior kode ganda dikaji melalui teori poskolonial, karena dalam teori ini, eklektisisme, sebagai ideologi desain, merupakan upaya konseptual untuk memperjuangkan identitas budaya lokal di tengah dominasi budaya global. Selain itu eklektisisme adalah untuk merepresentasikan egalitas antara budaya Barat dan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk: (a) memahami pengertian kode ganda dalam wacana desain poskolonial, (b) menawarkan suatu pemahaman atas pola penerapan eklektisisme di Indonesia, dan (c) mengupas kode ganda melalui klasifikasi sintaksis dan semantik ideologis. Hasilnya, di dalam klasifikasi sintaksis, terdapat pola adopsi, adaptasi, maupun adeptasi, serta bahasa estetik pastische, parodi, kitsch dan skizoprenia. 1. Desain dan Studi Poskolonial Definisi desain poskolonial adalah kombinasi elemen-elemen desain yang mempergunakan kode ganda, di mana di dalamnya terjadi transposisi (saling intervensi dan saling silang) kode-kode oposisi biner dalam berbagai bentuk kombinasi, sebagai representasi politik, sosial, budaya bangsa, bahkan antar pribadi yang mengalami imperialisme budaya secara langsung atau tidak langsung. Kajian ini mempergunakan kombinasi metode kritisisme poskolonial, semiotika dan studi banding terhadap kasus-kasus yang ada. Semiotika dipergunakan karena fokus kajiannya adalah pada masalah kode. Tujuan kajiannya adalah untuk mengenali tipe-tipe atau model-model relasi yang membentuk kode ganda, baik dari segi sintaksis maupun segi semantik ideologis. Studi poskolonial pada dasarnya bukan merupakan studi yang berkaitan dengan wacana kolonialisasi di tingkat fisik ataupun peristiwa setelah kolonialisme, tetapi lebih merupakan studi yang berkaitan dengan perjuangan identitas budaya dan hegemoni di tingkat representasi. Tingkat representasi ini sangat terkait dengan apa yang yang ditampakkan oleh karya-karya desain dalam perkembangannya kini. Dalam perkembangan desain interior kontemporer di kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta, terdapat kecenderungan untuk menghadirkan ruang-ruang interior eklektik, yaitu interior bergaya campuran modern dan tradisional (dari segi waktu), atau antara gaya interior yang berasal dari budaya Barat dengan budaya Timur (dari segi ruang).

Seruni Kusumawardhani
Vernakularisme pada Desain Perangkat Jual Pedagang Makanan Keliling di Bandung. (Hal. 115 - 126).

Ringkasan serunitabel-1.jpg

Penelitian ini menjelaskan vernakularisme pada perangkat jual Pedagang Makanan Keliling (PMK) di Bandung secara deskriptif analitis. Kehadiran PMK merupakan keniscayaan yang terjadi di setiap masyarakat urban di Indonesia. Penelitian dimulai dari pemikiran dan tujuan peningkatan mutu desain perangkat jual PMK agar meningkatan mutu makanan yang dijual. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan sosio-budaya dengan metode etnografi. Metode ini bertolak dari teori-teori tentang vernakularisme dalam desain dan masyarakat urban. Pertama adalah dengan melalui observasi untuk menentukan rumusan masalah penelitian. Kedua adalah menganalisis vernakularisme, konsep dan karakteristik nya, pada perangkat jual PMK melalui teori komplektsitas fungsi. Melalui analisis yang dilakukan, dapatlah disimpulkan bahwa desain perangkat jual PMK, walau tidak terdesain secara khusus dan hanya menggunakan konstruksi sederhana, namun sebenarnya adaptif terhadap perkembangan teknologi dan terus mengalami perbaikan dalam konteks ruang dan waktu.

Donnie B. Wijaksana, Achmad Haldani, Dudy Wiyancoko
Pemanfaatan Sampah Alumunium Untuk Pengembangan Desain Produk. (Hal. 127 - 138)

Ringkasan 10a.jpg

Aluminium adalah salah satu material yang sering digunakan oleh masyarakat, karena karakteristiknya yang ringan, kuat, mudah diproses dan tahan korosi. Besarnya tingkat penggunaan aluminium menyebabkan besar pula jumlah polutan berupa sampah dan limbah aluminium. Penggunaan material sampah aluminium dengan cara daur ulang merupakan salah satu cara yang efektif untuk menghindari polusi lingkungan. Riset ini memuat proses eksperimentasi pada sampah aluminium yang terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu: (a) Eksplorasi bentuk dengan teknik pengecoran; (b) Eksplorasi perubahan suhu; (c) Eksplorasi kimia untuk mendapatkan kemungkinan bentuk baru akibat reaksi kimiawi; (d) Eksplorasi penggabungan limbah aluminium dengan material lain; dan (e) ksplorasi penggabungan hasil cetakan aluminium. Hasilnya, kombinasi limbah aluminium dan limbah gelas merupakan bahan potensial untuk membuat beragam produk dengan fungsi sederhana, misalnya: perangkat makan dan aksesori busana. Hasil ini dapat menjadi acuan diversifikasi bagi industri kecil-menengah di bidang scrap aluminium.

Comments Off